Hasmipeduli.org

REALITA PERPECAHAN UMAT

Gambar. Realita Perpecahan Umat - www.hasmipeduli.org

REALITA PERPECAHAN UMAT

Apakah perpecahan benar-benar melanda umat Islam? Benarkah hal itu terjadi? Persoalan ini terangkum dalam beberapa point berikut ini.

  1. Hadits mutawatir dari Rasulullah ﷺ mengenai perpecahan yang melanda umat.

Umat Yahudi telah terpecah-belah menjadi 71 golongan. Dan umat Nasrani telah terpecah belah menjadi 72 golongan. Sementara umat ini (Islam) akan terpecah belah menjadi 73  golongan”.

Hadits Nabi ini shahih, diriwayatkan oleh para imam, seperti Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim, Ibnu Hibban, Abu Ya’la Al-Maushili, Ibnu Abi Ashim, Ibnu Baththah, Al-Ajurri, Ad-Darimi, Al-Lalikai dan lain-lain.

Rasulullah ﷺ memperingatkan bahaya perpecahan yang bakal melanda umat ini dan perpecahan yang bakal terjadi itu bukanlah cela dan cacat atas Islam, atas Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan atas Ahlul Haq.

Jadi, perpecahan pasti terjadi berdasarkan berita yang sangat akurat, meskipun realitas dan logika belum mampu membuktikan kebenarannya! Peringatan yang disampaikan berkali-kali itu merupakan sinyalemen bahwa perpecahan pasti terjadi tanpa bisa dihindari!

  1. Adanya nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mencakup larangan mengikuti jalan-jalan hawa nafsu dan perpecahan! Di antaranya adalah firman-firman Alloh ﷻ yang artinya:
    • Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai” [Ali Imran : 103]
    • Janganlah kalian berbantah-bantahan, sehingga menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan” [Al-Anfal : 46]
    • Janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka” [Ali Imran : 105]
    • Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya” [Asy-Syura: 13]
    • Bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya” [Al-An’am : 153]

Baca Artikel Lainnya!

Secara gamblang Rasulullah ﷺ telah menjelaskan ayat di atas, beliau menarik sebuah garis lurus yang panjang kemudian menarik garis-garis ke kanan dan ke kiri menyimpang dari garis lurus tadi. Lalu Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa garis lurus tersebut adalah jalan Allah, sementara garis-garis ke kanan dan ke kiri adalah jalan buntu yang menyimpang dari jalan yang utama yang lurus tadi. Beliau juga menjelaskan bahwa pada jalan-jalan kesesatan tadi terdapat juru-juru dakwah yang menyeru kepada jalan setan. Siapa mengikuti mereka, niscaya akan dilemparkan ke dalam jurang kehancuran.

  1. Allah ﷻ telah melarang kita berbantah-bantahan dalam firmanNya.

“Janganlah kalian berbantah-bantahan, sehingga menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan” [Al-Anfal : 46]

Sementara berbantah-bantahan itulah yang terjadi di antara kelompok-kelompok itu hingga berpecah-belah menjadi bergolong-golongan.

  1. Allah ﷻ telah mengancam siapa saja yang menyimpang dari jalan orang-orang yang beriman (sahabat) dalam firmanNya.

“Siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali” [An-Nisaa : 115]

Ternyata apa yang disebutkan dalam ayat di atas benar-benar dilakukan oleh segerombolan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya serta mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman. Mereka itulah kaum munafikin, kaum penentang dan kaum sempalan.

  1. Rasulullah ﷺ telah menetapkan beberapa sanksi atas orang yang memisahkan diri dari jama’ah, juga menjadi salah satu dalil bahwa hal itu pasti terjadi! Dengan keras beliau ﷺ mengancam siapa saja yang memisahkan diri dari jama’ah, berikut sabda beliau.

“Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah kecuali dengan tiga alasan : (1) berzina setelah menikah. (2) Membunuh jiwa tanpa hak (qishash). (3) Murtad dari Islam yang memisahkan diri dari jama’ah” [HR. Bukhari dan Muslim]

  1. Secara implisit Rasulullah ﷺ telah memberikan sinyalemen terjadinya perpecahan ketika beliau menyinggung tentang kelompok Khawarij.

Beliau menyebutkan bahwa kelompok Khawarij ini akan memisahkan diri dari umat, akibatnya mereka melesat keluar dari agama. Istilah “keluar dari agama” bukan berarti kafir keluar dari Islam, akan tetapi maknanya adalah keluar dari asas Islam, keluar dari hukum-hukum dan batas-batasnya.

Istilah ‘keluar dari agama’ kadang kala berarti kekafiran, kadang kala juga berarti tidak sampai kepada batas kafir. Kadang kala bermakna memisahkan diri dari umat Islam, yaitu dari jama’ah, atau memisahkan diri dari jalur Sunnah Nabi yang dilalui oleh Ahlus Sunnah, yang merupakan Ahlu Islam sejati.

  1. Nabi ﷺ memerintahkan untuk memerangi siapa saja yang memisahkan diri dari jama’ah, sebagaimana yang disinggung dalam hadits di atas tadi. Sanksi tersebut merupakan sebuah ketetapan bagi sesuatu yang pasti terjadi. Sebab sangat mustahil ketetapan Nabi itu ngawur dan hanya kira-kira belaka.
  2. Rasulullah ﷺ juga telah menjelaskan bahwa siapa saja yang mati dalam keadaan memisahkan diri dari jama’ah, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah. Beliau ﷺ juga menjelaskan bahwa perpecahan itu adalah azab, menyempal itu adalah kehancuran dan beberapa perkara lainnya yang menunjukkan bahwa perpecahan pasti terjadi. Peringatan terhadap bahaya perpecahan bukanlah gurauan belaka! Pasti melanda umat sebagai bala’. Perpecahan tidak akan terjadi bila kaum muslimin berada di atas keterangan ilmu, mengenal kebenaran, mengenal Al-Qur’an dan As-Sunnah serta berpedoman Salafus Shalih, mencari kebenaran tersebut hingga dapat membedakan antara haq dan batil. Siapa saja yang mendapat hidayah, maka ia mendapatkannya dengan petunjuk ilmu. Dan siapa saja yang sesat, maka ia sesat berdasarkan keterangan yang nyata. Hanya kepada Allah saja kita memohon keselamatan dari kesesatan.

Kesimpulannya

Berdasarkan dalil-dalil qathi di atas, perpecahan pasti melanda umat ini. Perpecahan adalah bala’ dan adzab yang telah Allah ﷻ tetapkan dan tidak akan berubah! Perpecahan dengan beragam bentuknya adalah tercela. Setiap muslim harus mengetahui bentuk-bentuk perpecahan dan para pelakunya sehingga ia dapat menghindar dari jurang kesesatan!

Sedekah Beras untuk Santri, Yatim dan Dhuafa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lengkapi amal baik anda hari ini dengan sedekah jariyah bersama HASMI

Hubungi Kami
Hubungi Kami
Terimakasih Telah Menghubungi Kami..!!
Ada yang bisa kami bantu?..