Hasmipeduli.org

CARA PENANGGULANGAN PERPECAHAN UMAT

Gambar. Cara Penanggulangan Perpecahan Umat - www.hasmipeduli.org

CARA PENANGGULANGAN PERPECAHAN UMAT

Sudah barang tentu, mewaspadai perpecahan dan mencegahnya sebelum terjadi lebih baik daripada menyelesaikannya setelah terjadi. Seyogyanya kita mengetahui bahwa mewaspadai perpecahan adalah dengan mewaspadai sebab-sebab yang telah disebutkan terdahulu.

Namun di sini terdapat beberapa faktor lain yang dapat menangkal terjadinya perpecahan, baik faktor yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus.

Faktor-Faktor Umum Penanggulangan Perpecahan

Di antara faktor-faktor umum ialah:

  1. Berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
    Hal ini merupakan kaidah agung yang melahirkan wasiat-wasiat serta banyak perkara lainnya.
    Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda:

إِنِّيْ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ، وَلَنْ يَتَفَرَّقاَ حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama-lamanya jika kalian berpegang teguh dengan keduanya: Kitabulloh dan Sunnahku. Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga keduanya mendatangiku di telaga (al-Kautsar).”  (HR. al-Hakim dan Malik; dishohihkan al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi)

  1. Mengenal petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berpegang teguh dengannya. Siapa mengikuti petunjuk Nabi, dia pasti mendapat petunjuk insya Allah, dan dapat melaksanakan agama berdasarkan pengetahuan. Dengan begitu ia akan terhindar dari perpecahan atau pertikaian yang menjurus kepada perpecahan tanpa disadari.

       Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda:

وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللُه عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَوعِظَةً بَلِيْغَةً وَجِلَتْ مِنْهَـا الْقُلُوبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ فَقُلْنَا :يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأوْصِنَا، قَالَ: أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإنْ تَأمَّر عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ، وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اِخْتِلاَفًا كَثيراً، فَعَليْكُمْ بسُنَّتِي وسُنَّةِ الْخُلَفاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِيِّنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بالنَّواجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ؛ فإنَّ كلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Rosululloh Shalallahu ‘alaihi Wassalam telah memberikan nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan membuat air mata kami bercucuran. Kami bertanya  “Wahai Rosululloh, nasehat itu seolah-olah nasehat dari orang yang akan berpisah selama-lamanya (meninggal) maka berilah kami wasiat.” Maka Rosululloh Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda : “Aku berwasiat kepada kalian agar tetap bertakwa kepada Allah Ta’ala, mendengar dan taat walaupun yang memerintah kalian adalah seorang hamba sahaya (budak) dari Ethiopia. Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup niscaya ia akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Oleh karena itu hendaklah kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rosyidin yang lurus lagi mendapat petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi geraham kalian (yakni peganglah erat-erat) dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru dalam agama karena sesunguhnya semua bid’ah itu sesat ” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, “Dan sesungguhnya Bani Isroil telah terpecah-belah menjadi 72 kelompok keagamaan, dan umatku akan berpecah belah menjadi 73 kelompok keagamaan. Seluruhnya berada di api neraka, kecuali satu kelompok. Mereka (para Sohabat) bertanya : ‘Siapakah satu kelompok itu wahai Rosululloh?’, maka beliau menjawab:

مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ

 “Mereka yang mengikuti jejakku dan jejak para Sahabatku”  (HR. Tirmidzi)

Baca Artikel Lainnya!

Faktor-Faktor Khusus Penanggulangan Perpecahan

Di antara faktor-faktor khusus dalam penanggulangan perpecahan adalah:

  1. Menerapkan pedoman Salafus Shalih, para sahabat, tabi’in dan imam-imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Memperdalam ilmu agama dengan mempelajarinya dari para ulama dan dengan metodologi yang shahih berdasarkan petunjuk ahli ilmu.
  2. Bergaul dengan para ulama dan imam-imam yang berjalan di atas petunjuk yang terpercaya, baik agama, ilmu dan amanahnya.
    Ahamdulillah mereka masih banyak dan tidak mungkin umat Islam akan kehabisan ulama pewaris Nabi. Siapa berasumsi bahwa mereka akan habis, berarti ia berasumsi bahwa agama Islam akan berakhir. Asumsi seperti ini jelas tidak benar, sebab Allah telah berjanji akan menjaga agama Islam sampai hari Kiamat. Karena umat Islam merupakan perwujudan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang merupakan perwujudan para ahli ilmu dan ahli fiqih akan tetap ada sampai hari Kiamat. Maka siapa menyangka bahwa ahli ilmu akan habis atau tidak ada lagi keteladanan ulama yang menjadi tempat bertanya bagi umat, berarti ia telah menyangka bahwa tidak akan ada lagi Thaifah Manshurah (Kelompok yang mendapatkan petolongan dari Allah) dan tidak ada pula Firqatun Najiyah (golongan yang selamat). Dan ini berarti kebenaran akan hapus dan sirna dari tengah-tengah manusia. Ini jelas menyelisihi nash-nash yang qath’i dan prinsip-prinsip dasar agama.
  3. Menjauhi sikap meremehkan alim ulama atau menyimpang dari mereka dengan segala model dan bentuknya yang dapat menimbulkan fitnah dan perpecahan. Keharusan mengantisipasi fenomena-fenomena perpecahan terutama yang terjadi pada sebagian pemuda, orang-orang yang suka tergesa-gesa, serta orang-orang yang belum memahami cara hikmah dalam berdakwah, belum berpengalaman dan belum memahami Islam.
  4. Semangat memelihara keutuhan jama’ah, persatuan dan perdamaian dalam arti umum dengan prinsip-prinsipnya.
    Setiap muslim, khususnya para penuntut ilmu dan juru dakwah, wajib berusaha memelihara keutuhan jama’ah, persatuan dan perdamaian antar sesama juru dakwah. Dan menyatukan kalimat untuk menyeru kepada kebaikan dan takwa.
  5. Siapa ingin berpegang teguh kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan selamat dari perpecahan -insya Allah- dia harus menetapi ahli ilmu dan menetapi kaum yang shalih dari kalangan orang-orang yang takwa, orang-orang yang baik dan istiqamah. Mereka adalah orang-orang yang tidak mencelakakan teman duduknya dan tidak menyesatkan rekan sejawatnya. Siapa menginginkan bagian tengah Surga, hendaklah ia komitmen terhadap jama’ah, karena jama’ah adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya.

Sedekah Beras untuk Santri, Yatim dan Dhuafa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lengkapi amal baik anda hari ini dengan sedekah jariyah bersama HASMI

Hubungi Kami
Hubungi Kami
Terimakasih Telah Menghubungi Kami..!!
Ada yang bisa kami bantu?..