Hasmipeduli.org

AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Gambar. Ahlus Sunnah wal Jama'ah - www.hasmipeduli.org

AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

  1. Definisi Ahlus Sunnah

Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti aqidah Islam yang benar, komitmen dengan manhaj Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam bersama para sahabat, tabi’in dan semua generasi yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam bersabda: “Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus sesudahku, gigitlah ia dengan gigi gerahammu.” (HR. Ahmad)

Ahlus Sunnah memiliki nama lain yaitu;

  1. Ahlul Hadits. Penamaan Ahlus Sunnah dengan Ahlul Hadits dimaksudkan untuk membedakannya dengan Ahlul kalam yang menganggap bahwa kalam mereka harus didahulukan atas hadits Rosululloh dalam bidang akidah. Alasannya adalah hadits itu memberikan indikasi yang bersifat hipotesis (dhonni) sedang akal mereka memberi indikasi yang bersifat yakin (mutlak). Dengan demikian hadits-hadits Rosululloh dalam bidang akidah sama sekali tidak berguna.
  2. Ahlul Atsar. Ahlus Sunnah sering disebut dengan Ahlul atsar karena mereka mengikuti atsar-atsar yang diriwayatkan dari Rosululloh dan para sahabatnya.
  3. Firqah Najiyah.
    Penamaan ini didasarkan pada hadits-hadits yang menerangkan akan terpecahnya umat Islam menjadi 73 golongan, yakni 72 golongan akan tersesat dan yang selamat (najiyah) hanya satu yaitu “ma ana ‘alaihi wa ash-habi” (siapa saja yang meniti jejekku dan para sahabatku)
  4. Thaifah Manshuroh (golongan yang mendapat pertolongan dari Alloh).
    Nama lain dari Ahlus Sunnah sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits Rosululloh adalah thoifah manshuroh. Golongan yang mendapat pertolongan sebagaimana yang disebut dalam hadits-hadits Rosululloh adalah golongan pejuang dari kalangan Ahlus Sunnah.

  1. Sebab Penamaan Ahlus Sunnah

Adapun mengenai awal penamaan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah atau Ahlul Hadits adalah ketika terjadi perpecahan dengan munculnya berbagai golongan sesat serta banyaknya bid’ah dan penyimpangan. Pada saat itulah Ahlus Sunnah menampakkan identitasnya yang berbeda dengan yang lain, baik dalam aqidah maupun manhaj mereka. Namun pada hakikatnya, mereka itu hanya merupakan proses kelanjutan dari apa yang dijalankan Rosululloh dan para sahabatnya.

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Abdul Qahir A-Baghdadi menyebutkan bahwa dinamakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah karena mengikuti jalan, petunjuk, dan sunnah Rosululloh. Nama tersebut sebagai pembeda dari firqah-firqah sesat yang menyimpang dari apa yang telah dituntunkan oleh Rosululloh dan sudah tersebar luas itu.

Baca Artikel Lainnya!

  1. Akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Berikut ini di antara ringkasan akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah:

  1. Mengimani tentang rububiyyah (bahwa Alloh adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan), uluhiyyah (Alloh adalah satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi), dan asma wa shifat (Alloh memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna).
  2. Sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba-Nya yang terpilih, Nabi-Nya yang terpandang, dan Rosul-Nya yang diridhoi. Beliau adalah penutup para Nabi dan Rosul.
  3. Seluruh yang diriwayatkan dengan shahih dari Rosululloh berupa ajaran dari syariat adalah benar adanya.
  4. Sesungguhnya al-Qur’an adalah kalamulloh: berasal dari-Nya, diturunkan kepada Rasul-Nya sebagai wahyu dan diimani oleh kaum mukminin dengan sebenar-benarnya.
  5. Melihat Alloh adalah benar adanya bagi penghuni surga.
  6. Mi’rajnya Nabi ke sidratul muntaha adalah benar adanya.
  7. Haudh (telaga) Kautsar yang dijanjikan oleh Alloh bagi umatnya (Muhamad) adalah benar adanya.
  8. Syafaat yang diperuntukan Alloh bagi umat Muhamad adalah benar adanya.
  9. Alloh telah mengetahui jumlah hamba-Nya yang masuk surga dan yang akan masuk nereka. Demikian juga perbuatan-perbuatan mereka yang telah Alloh ketahui apa yang mereka telah perbuat.
  10. Sesuatu yang ditakdirkan tidak akan menimpa seorang hamba, maka tidak akan menimpanya. Dan yang akan mengenainya, maka tidak akan meleset.
  11. Amal perbuatan hamba adalah makhluk Alloh, namun juga hasil usaha hamba itu sendiri.
  12. Segala sesuatu berlaku menurut kehendak, ilmu, keputusan, dan ilmu Alloh.
  13. ‘Arsy Alloh dan kursi Alloh adalah benar adanya.
  14. Dia tidak membutuhkan ‘arsy-Nya dan apa yang ada di bawahnya. Dia menguasai segala sesuatu dan apa-apa yang ada di atasnya.
  15. Mengimani para malaikat, para nabi, dan kitab-kitab yang diturunkan kepada para Rasul.
  16. Tidak menyanggah al-Qur’ah dan bersaksi bahwa dia adalah kalam Robbul ‘alamin.
  17. Tidak mengafirkan ahli kiblat (kaum muslimin) hanya karena suatu dosa, selama tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang dihalalkan. Namun tidak mengatakan bahwa dosa itu sama sekali tidak berbahaya bagi orang yang melakukannya selama ia masih beriman.
  18. Iman adalah keyakinan dengan hati, pengucapan dengan lisan dan pengamalan dengan anggota badan.
  19. Kaum mukminin semuanya adalah wali-wali ar-Rahman.
  20. Para pelaku dosa besar dari kalangan umat Nabi Muhammad tidak akan kekal di dalam neraka jika mereka mati dalam keadaan bertauhid.
  21. Mengimani adanya adzab kubur bagi orang-orang yang berhak mendapatkannya dan juga pertanyaan Munkar dan Nakir kepadanya di dalam kubur tentang Robb dan agamanya.
  22. Mengimani adanya Ba’ats (kebangkitan), hisab, shiroth, al-mizan, catatan amal dan semua keimanan tentang hari akhir.
  23. Jannah dan nar adalah dua makhluk Alloh yang kekal, tak akan punah dan binasa. Alloh telah menciptakan keduanya sebelum penciptaan makhluk lain.
  24. Mencintai para sahabat namun tidak berlebihan dalam mencintai. Tidak juga meremehkan terhadap seorangpun dari mereka. Membenci siapapun yang membenci para sahabat dan menjelek-jelekkan mereka.
  25. Mencintai mereka adalah pengamalan agama, keimanan, dan ihsan. Sementara membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan melampaui batas.
  26. Mengakui kekhilafahan sepeninggal Rosululloh. Yang pertama adalah Abu Bakar sebagai sikap mengutamakan dan mengunggulkan atas semua umat Islam. Kemudian Umar bin Khaththab kemudian Usman bin Affan kemudian Ali bin Abi Thalib.
  27. Para sahabat dan tabi’in adalah para pelaku kebaikan dan para ahli fikih, para ahli hadits, dan para ahli ushul. Mereka semuanya harus disebutkan kebaikan-kebaikannya. Barangsiapa yang menjelek-jelekan mereka, maka mereka tidak berada di atas jalan sahabat.
  28. Mengimani adanya tanda-tanda hari kiamat berupa turunnya Dajjal, turunnya Nabi Isa dari langit, terbitnya matahari dari barat, dan keluarnya ad-Dabbah (binatang yang dapat berbicara seperti manusia) dari tempat kediamannya.

Sedekah Beras untuk Santri, Yatim dan Dhuafa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lengkapi amal baik anda hari ini dengan sedekah jariyah bersama HASMI

Hubungi Kami
Hubungi Kami
Terimakasih Telah Menghubungi Kami..!!
Ada yang bisa kami bantu?..