Hasmipeduli.org

Sumber Kesesatan: Taklid Buta

Gambar. Taklid Buta - www.hasmipeduli.org

Taklid Buta

Taklid buta adalah mengikuti perkataan seseorang tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa memandang benar atau salahnya menurut syariat Islam.

Islam sangat mencela sikap taklid buta ini, bahkan inilah salah satu penghalang utama seseorang mengikuti kebenaran dan tetap bersikukuh dalam kebatilan.

Karena taklid buta kepada ajaran leluhur, maka umat sebelum kita menolak dakwah tauhid yang diserukan oleh para rosul.

Alloh ﷻ berfirman:

وَكَذَٰلِكَ مَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ فِي قَرۡيَةٖ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوهَآ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ ٢٣ قَٰلَ أَوَلَوۡ جِئۡتُكُم بِأَهۡدَىٰ مِمَّا وَجَدتُّمۡ عَلَيۡهِ ءَابَآءَكُمۡۖ قَالُوٓاْ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ كَٰفِرُونَ ٢٤ 

Wakaf Qur’an untuk Santri Penghafal Qur’an: 1 Huruf = 10 Kebaikan

“Demikianlah, kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan para pembesar di negeri itu berkata: “Sesungguhnya Kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. Rosul itu berkata: “Apakah kalian akan mengikutinya juga sekalipun aku membawa untuk kalian agama yang lebih nyata memberi petunjuk daripada apa yang dianut oleh bapak-bapak kalian?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kalian sampaikan.” (QS.  az-Zukhruf [43]: 23-24)

Sikap taklid buta juga merupakan tradisi orang-orang Nasroni yang membuat mereka tersesat dari jalan Alloh ﷻ yang lurus.

Alloh ﷻ berfirman:

ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُوٓاْ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗاۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ سُبۡحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٣١ 

“Mereka menjadikan pendeta dan rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Alloh dan mereka mempertuhankan Isa putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Alloh. Maha Suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah [9]: 31)

Adi bin Hatim rodhiyallohu’anhu yang ketika itu masih beragama Nasroni berkata:

“Aku mendatangi Rosululloh ﷺ  sementara pada leherku terdapat sebuah salib dari emas. Lalu aku mendengar beliau membaca sebuah ayat dalam surat at-Taubah ini “Mereka menjadikan pendeta dan rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Alloh dan mereka mempertuhankan Isa putra Maryam.” Aku pun berkata, “Wahai Rosululloh, kami dahulu tidak pernah menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan kami.” Rosululloh ﷺ bersabda, “Ya, bukankah jika mereka menghalalkan apa yang diharamkan Alloh atas kalian, maka kalian juga menghalalkannya, dan jika mereka mengharamkan apa yang dihalalkan atas kalian, maka kalian juga mengharamkannya?” Adi rodhiyallohu’anhu berkata, “Ya.” Rosululloh ﷺ bersabda, “Itulah bentuk peribadatan kepada mereka.” (HR. Baihaqi dan Tirmizi)

Taklid dan fanatik buta terhadap pemikiran seorang tokoh akan memisahkan antara seorang muslim dari dalil dan kebenaran.

Inilah keadaan orang-orang yang fanatik buta pada zaman kita sekarang ini, mayoritas mereka terdiri dari pengikut sebagian mazhab, tarekat sufiyyah dan quburiyyun (para pengkeramat kuburan), yang apabila mereka diseru untuk mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah, mereka menolaknya. Mereka juga menolak apa-apa yang menyelisihi pendapat mereka. Mereka berdalil dengan mazhab, perkataan para syaikh dan kiyai mereka. Ini adalah pintu dari sekian banyak pintu-pintu masuknya kesesatan ke dalam agama Islam.

Ini bukan berarti kita melarang kaum muslimin yang awam untuk mengikuti salah satu mazhab dari mazhab yang empat. Karena, keempat mazhab tersebut adalah hasil ijtihad para imam ahlussunnah wal jamaah. Kita mengakui dengan penuh kerendahan hati bahwa ilmu mereka jauh di atas kita. Pendapat mereka jauh lebih baik daripada pendapat kita.

Akan tetapi, imam manapun yang kita jadikan panutan, ia tidaklah terbebas dari kesalahan. Oleh karena itu, apabila pendapat imam tersebut menyelisihi dalil yang shohih, maka kita tinggalkan pendapatnya dengan tanpa mengurangi rasa hormat kita kepadanya.

Baca artikel lainnya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Search
Kategori

Lengkapi amal baik anda hari ini dengan sedekah jariyah bersama HASMI

Hubungi Kami
Hubungi Kami
Terimakasih Telah Menghubungi Kami..!!
Ada yang bisa kami bantu?..