Hasmipeduli.org

Sejarah Kebatinan

Sejarah Kebatinan - www.hasmipeduli.org

SEJARAH KEBATINAN

  1. Secara umum kejawen (kebatinan) banyak bersumber dari ajaran nenek moyang bangsa Jawa yaitu animisme dan dinamisme yang diwariskan secara turun temurun sehingga tidak dapat diketahui asal muasalnya.
  2. Keberadaan aliran Kebatinan atau dapat disebut juga kepercayaan dalam wujudnya sebagai organisasi yang beraneka macam serta dalam jumlah yang tiada sedikit, barang kali itu boleh dipandang sebagai fenomena baru, oleh karena organisasi-organisasi aliran kepercayaan itu pada umumnya baru muncul setelah proklamasi kemerdekaan. Sebagian di antaranya memang telah ada sejak zaman kolonial Belanda, sekitar abad 20 ini. Akan tetapi apabila dilihat dari aspek ajarannya yang intinya adalah mistik Islam Kejawen, sesungguhnya memiliki akar yang cukup panjang sepanjang sejarah perkembangan Islam di Jawa. Faham Kebatinan telah ada sejak Islam bersentuhan dengan budaya Jawa Hindu, justru perpaduan antara mistik Islam dan Hindu Budha itulah yang menghasilkan mistik Islam Kejawen yang menjadi ciri khas aliran kepercayaan.
  3. Faham Kebatinan ini dalam proses perkembangannya senantiasa didukung oleh golongan priyayi, yaitu golongan keluarga istana dan pejabat pemerintahan kraton. Mereka termasuk ke dalam kategori orang-orang Islam abangan lapisan atas, yakni orang-orang Islam yang kurang mengetahui ajaran-ajaran Islam dan oleh karenanya tidak mengamalkan syari’at Islam. Mereka masih mempertahankan budaya Hindu, sementara Islam yang datang kemudian dipandang sebagai unsur tambahan. Unsur Islam diperlukan untuk melengkapi kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang diperlukan ajaran mistik.
  4. Dalam mistik priyayi ini, tidak ada bedanya antara Yang Mutlak (Tuhan) dengan manusia. Faham Islam Kejawen sesungguhnya telah mulai masuk di kalangan istana/kraton sejak pemerintahan sultan Tranggono di kesultanan Demak. Penghulu istana Demak itu ialah sunan Geseng, saudara seperguruan Syekh Siti Jenar, yang mengajarkan mistik manunggaling kawulo gusti. Dan menantu Sultan Tranggono dari putrinya yang tertua yaitu Jaka Tingkir atau Mas Karebet adalah dari golongan Islam Kejawen. Di samping sebagai menantu Sultan, dia semula adalah sebagai bupati di Pengging, menggantikan kedudukan ayahnya, yaitu Ki Kebo Kenanga. Dia juga termasuk salah seorang murid Syekh Siti Jenar. Sementara itu kakeknya, Prabu Andayaningrat dari Pangging juga, adalah menantu Prabu Brawijawa ke V dari Majapahit. Dan sewaktu kerajaan Demak sudah berdiri, Andayaningrat tetap berusaha untuk melanjutkan dinasti Majapahit dengan segala tradisinya. Tatkala Jaka Tingkir keluar sebagai pemenang dalam perebutan dengan Arya Penangsang kemudian ia dikukuhkan sebagai sultan tahun 1550 menggantikan sultanTrenggono dengan gelar Sultan Hadiwijaya, maka ibukota kerajaan dipindah dari Demak ke Pajang, sebab di sana banyak penganut Islam Kejawen yang mendukung pemerintahannya, sehingga pada tahun 1568 terjadi pergeseran yang menyebabkan olehnya diusahakan penyesuaian Islam dengan agama siwa Budha dan dengan resmi diwujudkan dalam bentuk ajaran wihdatul wujud atau manunggaling kawula gusti sebagai dasar falsafat kerajaan, pergeseran itu diusahakan atas prakarsa ki Ageng Pengging (Ki Kebo Kenanga) ayah Jaka Tingkir. Sehingga saat itu terjadi polarisasi kehidupan beragama, disatu pihak ada kelompok lama yang secara murni melaksanakan syari’at Islam dan di lain pihak terdapat para bangsawan dan prajurit islam yang masih melaksanakan kebiasaan adat kraton yang sinkretis yang biasa disebut kaum abangan.

Baca Artikel Lainnya!

  1. Saat para kyai Indonesia banyak yang pergi haji ke mekkah dan banyak mempelajari islam yang murni di sana, setelah itu menyebarkan islam yang murni di Indonesia dan membentuk gerakan-gerakan reformasi, dan arus modernisasi Barat semakin mengancam, maka hal ini menjadikan semangat keberagamaan kejawen juga semakin meningkat. Mereka bangkit mempertahankan apa yang dianggap sebagai nilai asli Jawa. Dan pada saat kemerdekaan, kebatinan sangat berkembang pesat terutama saat pasca kemerdekaan.
  2. Banyak para ahli ilmu sosial maupun ilmu agama yang menganalisa dan memberikan pendapatnya kenapa aliran kebatian pada saat itu tumbuh begitu pesat. Hal itu antara lain di samping dimungkinkan karena adanya pernyataan kebebasan beragama yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 29, juga karena berbagai krisis yang timbul pada masa perjuangan membela kemerdekaan menuntut orang mencari pegangan hidup, penguat batin.
  3. Kebatinan Jawa sebenarnya adalah peninggalan tradisi agama Jawa asli sebelum adanya pengaruh agama-agama besar (Hindu, Buddha, Islam dan Kristen). Setelah masuknya Hindu, Buddha, Islam dan Kristen, maka terjadilah peleburan budaya di mana agama asli penduduk bercampur dengan agama baru.
  4. Dalam proses peleburan itu, terjadi beberapa kemungkinan. Pertama, unsur-unsur agama baru diterima akan tetapi unsur agama lama tidak hilang dan bercampur dengan unsur agama baru (contoh: Islam abangan di mana ia menyebut dirinya Islam, tetapi melaksanakan upacara-upacara selamatan dan tidak berdoa sebagaimana mestinya orang Islam). Kedua, unsur-unsur agama baru makin menguat dan mendominasi unsur agama lama makin menghilang (contoh: agama Kristen dalam budaya Batak). Ketiga, unsur agama baru bercampur dengan unsur agama lama dan menghasilkan agama baru yang memiliki ciri tersendiri (contoh: agama Hindu Bali berbeda dengan ajaran Hindu di Hindustan). Keempat, unsur agama lama mengalami revival dan menjadi menonjol meskipun menggunakan juga unsur-unsur agama baru (contoh: agama Wudu di Brasilia). Di sini kita akan mempelajari pelbagai aliran kebatinan atau kepercayaan yang berkembang di Jawa.

Wakaf Se-Juta Qur`an ke Pelosok Negeri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Search
Kategori

Lengkapi amal baik anda hari ini dengan sedekah jariyah bersama HASMI

Hubungi Kami
Hubungi Kami
Terimakasih Telah Menghubungi Kami..!!
Ada yang bisa kami bantu?..