Bagaimana ISLAM, Berbicara Tentang Sabar - Hasmipeduli.org

Hasmipeduli.org

Bagaimana ISLAM, Berbicara Tentang Sabar

Bagaimana ISLAM, Berbicara Tentang Sabar

Suatu pujian mulia dan indah disampaikan oleh para malaikat saat menyambut orang-orang solih dan keluarganya memasuki surga. Tahukah anda pujian apa yang mereka sanjungkan? Alloh SWT berfirman:

“(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shobartum”. Maka Alangkah baiknya tempat kesudahan itu”. (QS. Ar-Ro`d [13]: 23-24)

Syeikh Abdurrohman bin Nashir as-Sa`di RA menguraikan saat menjelaskan ayat-ayat ini,:

“Para malaikat masuk menyambut orang-orang solih dari setiap pintu”, mengucapkan selamat dan kemuliaan kepada mereka sambil berkata: [salamun alaikum] salam sejahtera dari Alloh SWT terlimpahkan untuk kalian.” Semua itu berarti mengandung hilangnya segala macam yang tidak disukai dan meraih segala macam yang disukai. [bimasobartum] artinya kesabaran kalian telah mengantarkan kalian ketempat yang tinggi dan surga yang mahal ini. [oh… alangkah bahagianya tempat akhir kalian]”.

Ya… sabar.., sabarlah yang mengantarkan orang-orang sholih memasuki surga Alloh SWT.

Ibnu katsir menguraikan sebuah kisah hadits dari Rosululloh SAW yang menjelaskan tentang siapakah orang-orang yang sabar di dalam ayat ini: “Kelompok pertama yang memasuki surga adalah orang-orang fakir Muhajirin yang terlindungi dari hal-hal yang dibenci. Jika mereka diperintah, mereka selalu mematuhinya. Jika, salah seorang diantara mereka mengungkapkan masalah yang dihadapinya kepada seorang penguasa, masalah itu tidak ditanggapi oleh penguasa tersebut sampai masalah itu tetap tersimpan di dadanya sampai mati. Maka pada hari kiamat, Alloh SWT memanggil surga, lalu surgapun datang dengan kemegahan dan keindahannya. Saat itu Alloh SWT berfirman: “Mana hamba-hamba-Ku yang berperang di jalan-Ku, lalu terbunuh, disakiti dan berjihad di jalan-Ku. Masuklah kalian ke dalam surga! Maka, mereka memasuki surga tanpa hisab. Lalu, malaikat datang dan bersujud kepada Alloh SWT sambil berkata: ya.. Robbana.., kami bertasbih memuji-Mu siang dan malam serta mensucikan-Mu dibandingkan mereka yang telah Engkau beri keistimewaan ini? Alloh, Robbi  berfirman: Mereka itu adalah hamba-hamba-Ku yang berperang dan disakiti di jalan-Ku. Maka, para malaikat itupun masuk dari setiap pintu sambil sambil mengucapkan: salam sejahtera untuk kalian disebabkan kalian sabar. Alangkah indahnya tempat kembali akhir kalian (QS. ar-Ro’d [13]: 24)” (Silsilah Hadits Shohih: 2559)

Sabar bukan hanya bermakna tabah dan menahan diri dari semua hal yang tidak disukai, akan tetapi,

  • Sabar berarti kokoh dalam ketaatan dan berjuang diri menunaikannya dengan tuntas dan sebaik-baiknya.
  • Sabar berarti kokoh di atas agama Alloh SWT, sebanyak apapun fitnah dan ujian serta sebesar apapun cobaan dan rintangan yang menghadang.
  • Sabar berarti menahan jiwa menghadapi berbagai kemungkaran dan menyapih diri dari berbagai syahwat yang diharamkan.
  • Sabar berarti tabah dalam menggapai kemuliaan yang tinggi serta melesat naik menempuh kesempurnaan.

Semua itu membutuhkan kesabaran, karena harus menahan jiwa dari kerendahan, kehinaan, santai-santai dan kemalasan. (ar-Roid, Mazin bin Abdul Karim al-Frieh: 3/160)

Bukankah melaksanakan ketaatan membutuhkan kesabaran? Alloh SWT berfirman:

“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan sabarlah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?”. (QS. Maryam [19]: 65)

As-Sa’di RA: “Sabari dirimu dalam beribadah dan berjuanglah sungguh-sungguh dalam menunaikannya serta dirikan dengan sesempurna dan selengkap mungkin sesuai kemampuanmu. Kesibukan diri dalam beribadah merupakan hiburan indah seorang hamba meninggalkan berbagai ikatan dan kesenangan duniawi”. (Taisir al-Karim ar-Rohman)

Bukankah dibutuhkan kesabaran dalam menghadapi semua ujian duniawi?

Alloh SWT berfirman:“Sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innalillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun”. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. al-Baqoroh [2]: 155-157)

Bukankah dakwah, satu amal soleh yang amat mulia dan agung juga membutuhkan kesabaran? Alloh SWT berfirman:

 “Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Alloh Padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kalian lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Alloh saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri”. (QS. Ibrohim [14]: 12)

As-Sa’di RA berkata: “Kami akan terus melanjutkan dakwah kami, nasehat-nasehat kebaikan kami dan peringatan kami. Kami tak peduli dengan gangguan yang akan kalian berikan kepada kami. Kami akan memperteguh jiwa kami menghadapi semua gangguan kalian itu, mudah-mudahan kalian mendapatkan nasehat serta diberikan hidayah oleh Alloh SWT”. (Taisir al-Karim ar-Rohman)

Sabar adalah akhlak para nabi dan rosul, maka sudah selayaknya kita meniru akhlak mereka, mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Alloh SWT dan ayat ini merupakan dalil penguat bagi para da’i ilalloh (penyeru agama Alloh) untuk menjadikan sabar sebagai senjatanya dalam menghadapi masyarakat yang didakwahinya. Sebagaimana Nabi Nuh AS yang berdakwah selamat 950 tahun dan hanya mendapat sedikit pengikut. Bahkan dalam menuntut ilmu sekalipun, sabar adalah kunci kesuksesan. Semoga Alloh SWT merahmati Yahya bin Abi katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shohih Imam Muslim.

Begitulah sabar melingkupi semua bentuk ketaatan sekecil apapun, melingkupi semua upaya meninggalkan apa saja yang dilarang Alloh SWT sepele apapun, serta melingkupi semua qodarulloh yang menimpa seorang hamba sepahit apapun.

Tak ada sebuah anugerah yang begitu besar yang diberikan kepada seorang hamba dibandingkan anugerah kesabaran.

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan.

Ibnu Qayyim mengatakan: “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak adalagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95).

Imam Ahmad berkata, “Di dalam al-Qur’an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan.

Wallohu ta’ala a’lam…

Leave a Reply

1
Chat kami sekarang
Assalamualaikum, berdonasi sekarang?
Anda akan Terhubung dengan admin melalui WhatsApp