HASMI PEDULI
INFAK FI SABILILLAH

INFAK FI SABILILLAH

Salahsatu bentuk ibadah kita kepada Allah dalam  harta adalah infak dan shodaqoh, yaitu menyerahkan sebagian harta itu fi sabilillah (dijalan Allah) untuk kepentingan Islam dan kaum Muslimin. Sekecil apapun infak yang dikeluarkan akan mendapatkan imbalan pahala dan berkah dari Allah. Allah berfirman :

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (QS.al-Baqoroh : 261)

Salahsatu bentuk ujian bagi manusia adalah harta. Seseorang diuji oleh Allah dengan hartanya: apakah ia bersedia berinfak di jalan Allah mendanai dakwah dan syiar Islam, dengan memasukkan ”uang receh” ke dalam kencleng dakwah.? Dan salah satu bukti keimanaan seorang mukmin adalah dengan infak dan shodaqoh. Rasulullah bersabda,

الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمان ، والحَمدُ لله تَمْلأُ الميزَانَ ، وَسُبْحَانَ الله والحَمدُ لله تَملآن – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَينَ السَّماوات وَالأَرْضِ، والصَّلاةُ نُورٌ ، والصَّدقةُ بُرهَانٌ

“Bersuci adalah separuh dari keimanan, ucapan ‘Alhamdulillah’ akan memenuhi timbangan, ‘subhanallah walhamdulillah’ akan memenuhi ruangan langit dan bumi, shalat adalah cahaya, dan shadaqah itu merupakan bukti.” (HR. Muslim)

Shadaqah disebut sebagai bukti keimanan karena harta adalah perkara yang dicintai oleh jiwa kita. Berat bagi diri kita untuk melepaskannya. Sehingga ketika seseorang merelakan hartanya tersebut di jalan Allah, maka ini adalah bukti yang menunjukkan kecintaannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Maka kita lihat sendiri, semakin tinggi keimanan seseorang, semakin banyak pula dia bershadaqah.

Teladan Rosul infak fi sabilillah

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling tinggi keimanannya. Beliau tidak pernah tanggung-tanggung dalam bershadaqah. Pernah beliau menyedekahkan kambing dengan sebanyak satu lembah.

Infak untuk dakwah di jalan Allah adalah seutama-utamanya infak yang dikeluarkan seorang muslim. Karena dakwah adalah amal tertinggi di dalam Islam yang menjadi benteng perlindungan bagi dien ini dan sebab utama kemuliannya. Jika ia ditinggalkan maka umat akan mengalami kehinaan dan keterbelakangan. Maka setiap sebab yang menjadikan sempurna amal dakwah di jalan Allah terhitung sebagai dakwah itu sendiri. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا وَمَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا

“Siapa yang menyiapkan kebutuhan seorang yang berjuang di jalan Allah maka sungguh ia telah ikut berjuang. Dan siapa yang mengurus keluarga orang yang berperang fi sabilillah dengan baik maka sungguh ia telah ikut berperang.” (Muttafaq ‘Alaih)

Hadist di atas menjelaskan keutamaan mendanai para pejuang yang berjuang di jalan Allah, termasuk di dalamnya adalah dakwah. Orang yang menyiapkan sesuatu untuk berjuang di jalan Allah  adalah dengan menyiapkan untuknya apa saja yang dibutuhkan berupa sarana dan prasarana. Siapa yang membantu dengan harta, maka dia mendapat pahala seperti orang yang berjuang  di jalan Allah walaupun ia tidak ikut serta secara fisik  karena ia membantu orang yang sedang berjuang fi sabilillah.

Harta kita adalah bekal untuk meraih ke ridhaan Allah

Harta dan jiwa kita pada hakikatnya adalah Milik Allah dan amanah-Nya, dan ketika kita menginfakkan di jalan Allah, Dia berikan bayaran yang amat mahal harganya, yakni surga. Oleh karena itu manfaatkanlah kesempatan infak di jalan Allah melalui kencleng dakwah sebelum harta tersebut hilang dan berpindah pada orang-orang sesudah kalian. Allah berfirman:

Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah:111)

Harta yang diinfakkan di jalan dakwah akan diberkahi dan akan dihilangkan darinya berbagai dampak bahaya, dan kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan keberkahannya dan pahala di sisi Allah. Dengan infak harta akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat banyak. Rasulullah bersabda :

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

 “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR Muslim no.2558)

Rasulullah bersabda :

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat lalu salah satunya berkata; “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya”, sedangkan yang satunya lagi berkata; “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil) “(HR. al-bukhari dan Muslim)

Orang kikir seolah tengah menempatkan diri dalam bahaya

Orang yang kikir yang tidak mau menginfakkan hartanya di jalan Allah sebenarnya telah menghancurkan hartanya sendiri, memposisikan dirinya dalam bahaya, dan membahayakan dirinya sendiri. Selain itu orang yang enggan menginfakkan haratanya di jalan Allah akan tersisihkan. Pasalnya, agama ini akan tetap jaya dan ditolong Allah. Ini merupakan suatu kepastian. Sehingga apabila suatu generasi, kelompok, individu kikir berinfak menolong agama Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan generasi yang membela agama Allah dengan menginfakkan agamanya. Jadi kerugianlah bagi orangorang yang kikir. Allah berfirman :

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Al-baqaroh : 195)

Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini, beliau berkata : “Jangan ada diantara kalian yang mengatakan saya tidak punya harta untuk diinfakkan. Sekiranya dia hanya mempunyai sebuah anak panah, hendaknya tetap mempersiapkan diri untuk berjuang di jalan Allah.

Bagaimana seorang muslim tidak mau menginfakkan hartanya di jalan dakwah fi sabilillah, padahal kita lihat musuh-musuh Islam telah menancapkan taringnya dan terlihat jelas ambisinya menghancurkan umat Islam, betapa besarnya usaha mereka dikerahkan, betapa besarnya harta mereka dikeluarkan untuk memalingkan manusia dari agama Allah. Sudah seharusnya umat Islam lebih semangat menginfakkan hartanya di jalan Allah. Allah berfirman :

Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal : 36)

Agama ini adalah agama Allah. Dakwah adalah sarana untuk membela dan menegakkannya. Berkorban harta untuk dakwah merupakan jalan untuk mencapai dakwah yang diperintahkan-Nya itu. Oleh karena itu siapa yang berdakwah dengan raga dan hartanya atau dengan salahsatunya yang bisa dilakukannya, berarti dia telah menyiapkan tempat tinggalnya di surge yang luas seluas langit dan bumi. Allah berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. As-Shoff : 10-11)

Artikel:

www.inilahfikih.com

Leave a Reply

WhatsApp Chat Kami di Whatsapp