DI USIA SENJA, DIA MASIH MENGAIS ASA DARI SEPOTONG SAMPAH

DI USIA SENJA, DIA MASIH MENGAIS ASA DARI SEPOTONG SAMPAH

Yang tersisa dari perjalanan distribusi bersama Hasmi Peduli hari jum’at 28-122018 itu… Lihatlah pemandangan ini… Mungkin, jika kita ditawarkan membeli rumah atau bahkan digratiskan untuk tinggal di rumah seperti yang ada di Lapak Sampah, Kreteg, Ciomas ini, kita tak kan mau menempatinya…

Tapi tidak dengan saudara2 kita itu… Para dhuafa itu… Termasuk Mak Nyai yang sudah berumur 65 tahun itu… Mak Nyai justru bukan hanya mau dan betah, tapi juga masih tetap bersyukur bisa tinggal di tempat seperti itu… Tempat yang maaf, mungkin tak layak disebut rumah itu… Mak Nyai bahkan dengan sukarela meninggalkan tempat tinggalnya di Cisarua demi menyambung hidup di tempat itu…

Masyaalloh… Tak kuat hati rasanya melihat pemandangan ini… Terlebih di usia yang tidak lagi bisa dikatakan muda, mak Nyai setiap hari masih harus mendorong gerobak sejauh sekian2 Kilometer dan mengais rizki dari rumah ke rumah tuk sekedar menemukan sepotong kardus tuk ditukarkan dengan rupiah yang tak seberapa…

Tapi beliau masih tetap selalu bersyukur. Di sini yang membuat saya tak habis pikir. Di sini keajaibannya. Bagaimana bisa? Terlebih, beliau masih harus mengurus 2 orang cucu yang ditinggal oleh ayahnya yang pergi entah kemana. Semakin sedih rasanya dan membayangkan betapa beratnya menjadi seorang nenek seperti Mak Nyai itu.

Tapi lagi2, walau sesedih apapun rasanya, beliau seperti tak pernah kehabisan semangat dan optimisme. Beliau bahkan senantiasa mengajarkan anak cucu nya untuk jujur, sampai untuk urusan sampah sekalipun. Ya, walaupun sampah kardus atau barang lainnya itu telah dibuang, namun beliau senantiasa mengajarkan untuk jujur. Tetap jangan sampai lupa meminta izin pada yang punya. Agar tidak disangka mencuri, sehingga harta yang didapat halal dan berkah.

Allohu Akbar. Itu beliau. Yang dalam kondisi seperti itu tetap selalu bersyukur. Lantas, bagaimana dengan kita? Adakah urusan dunia masih menjadi kekhawatiran kita? Takut jika ada tetangga ada yang lebih kaya dari kita. Takut jika harta yang disedekahkan menjadikan kita miskin? Dan rasa takut lainnya? Sungguh. Bukan masalah harta yang sebenarnya kurang dari diri kita, tetapi adalah kesyukuran atas nikmat yang Alloh ta’ala berikan. Yang padahal, jika dihitung, tak kan pernah kita dapat melakukannya.

Terakhir. Jazakumulloh khoir kepada donatur yang telah mendonasikan sebagian hartanya sehingga terlaksana program ini. Semoga do’a tulus Mak Nyai yang kemarin berkali2 saya dengarkan langsung, juga do’a para dhuafa lainnya Alloh ta’ala ijabah dan menjadi kebaikan atas harta2 yang telah kita infakkan dan sedekahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp Chat Kami di Whatsapp