PENDIDIKAN BERBASIS KESUCIAN JIWA

PENDIDIKAN BERBASIS KESUCIAN JIWA

pendidikan berbasis kesucian jiwa

Oleh: Arifin, SHI.

Potret keterpurukan pada masa jahiliyyah mencapai titik nadir. Mayoritas manusia ketika itu menganut ajaran paganisme (penyembahan kepada berhala). Moralitas manusia hancur berantakan. Aktifitas kesyirikanpun sangat melekat pada diri mereka. Memohon perlindungan kepada berhala, meminta rezeki di hadapan berhala, menyembelih binatang ternak dengan menyebut nama berhala, dan meminta kesembuhan kepada berhala, semua itu menjadi pemandangan kehidupan sehari-hari yang senantiasa terus berulang. Minuman keras menjadi hidangan harian. Perjudian merebak dimana-mana. Pelacuran menjadi tradisi yang dilegalkan.

Kondisi religuitas yang sangat parah itu, Alloh  mengutus seorang Rosul, Muhammad . Inilah merupakan anugerah dan nikmat yang sangat besar bagi kehidupan manusia.

Alloh  berfirman:

“Sungguh Alloh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Alloh mengutus diantara mereka seorang Rosul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Alloh, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 164)

Dr. Safar Hawali berkata, “Bagaimana halnya dengan sebuah masyarakat yang tidak beragama dan tidak ada Rosul di sisi Alloh yang diutus untuk mereka. Jikalau bukan karena para nabi, niscaya manusia tidak mampu membedakan antara yang benar dan salah, kebaikan dan keburukan, mereka tidak memperoleh hidayah, mereka tidak mengetahui jalan menghantarkan ke surga dan neraka. Inilah nikmat agung yang Alloh  anugerakan kepada manusia.”

Dalam ayat di atas, Alloh  menjelaskan bahwa salah satu tugas yang diemban oleh Rosululloh adalah membersihkan jiwa-jiwa manusia. Tugas ini sebagaimana yang Alloh  jelaskan dalam firman-Nya:

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rosul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. al-Jum’ah [62] : 2)

Dr. Safar Hawali berkata, “Tazkiyah adalah pensucian diri dari berbagai macam noda dan kotan hati, anggota badan, syi’ar-syi’ar, pikiran, akal, dan segala sesuatu. Alloh Tabaraka Ta’ala mengutus Nabi Muhammad  mengemban misi mensucikan hati dalam aspek tauhid. Mensucikan hati dalam aspek tauhid yaitu; berlepas diri dari kesyirikan, dosa, kemaksiatan, menuruti hawa nafsu, terjerat oleh syubhat, segala noda yang melekat dalam jiwa manusia, baik berupa noda aqidah, prilaku, pandangan, dan nilai.”

Dr. Sholih bin ‘Ali Abu ‘Arad dalam saad. Net berkata, “Istilah ‘tazkiyyah’ digunakan oleh sebagaian salaf ash-Sholih untuk menunjukkan  tarbiyyah islamiyyah secara sempurna, evaluasi jiwa, perhatian kepada jiwa, beramal untuk meningkatkan jiwa kepada jenjang tertinggi dalam aspek fisik, ruhani, dan akal. Adapun tafsir firman Alloh ‘mensucikan jiwa kalian’, yaitu (Nabi Muhammad ) mensucikan akhlak dan jiwa kalian dengan mertabiyyah jiwa menuju kepada akhlak yang terpuji dan membersihkan diri dari akhlak tercela.”

Jika kita mencoba merenungi dan memperhatikan pendidikan berbasis kesucian jiwa ala Rosululloh  kita akan kagum dan takjub. Alumni pendidikan pensucian jiwa ala Nabi  mampu merubah tipe manusia berprilaku jahat menjadi beradab, tipe manusia bermusuhan menjadi berdamai, tipe manusia berakhlak tercela menjadi berakhlak terpuji, tipe manusia pengecut menjadi pemberani dan tipe manusia durhaka menjadi taat.

Lihatlah kaum Aus dan Khazraj, dahulu mereka saling berperang dan bercerai berai. Tak ada kata damai di antara mereka.  Setelah mereka didik dengan cahaya Ilahi oleh Nabi  dengan pendidikan berbasis kesucian jiwa, mereka menjadi bersaudara. Peristiwa ini Alloh  abadikan dalam firman-Nya;

“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Alloh kepadamu ketika kalian dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Alloh mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kamu karena nikmat Alloh, orang-orang yang bersaudara;… (QS. Ali Imran [3] : 103)

 Artikel:

www.inilahfikih.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp Chat Kami di Whatsapp