RAMADHAN UKHUWAH : BERSATU MEMBANGUN NEGERI

RAMADHAN UKHUWAH : BERSATU MEMBANGUN NEGERI

Ramadhan bulan mulia, tamu agung bagi mereka yang berharap akan ampunan Tuhannya dan merindukan surgaNya. Ramadhan bulan ibadah dan musim ketaatan. Ia juga adalah bulan ukhuwah dan persatuan.

 

Oleh karenanya, beberapa amalan ibadah yang dianjurkan untuk dilaksanakan di dalamnya adalah amalan penguat ukhuwah dan persatuan. Amalan-amalan itu tidak hanya menghubungkan antara hamba dengan Tuhannya, tapi juga antara hamba dengan hamba yang lainnya.

 

Diantara amalan-amalan itu adalah:

 

1. Puasa Ramadhan adalah ibadah yang harus dilaksanakan secara berjama’ah tidak sendiri-sendiri.

Beberapa ulama mengatakan bahwa jika ada seseorang yang melihat hilal Ramadhan sendirinya, namun manusia yang lainnya belum melihatnya, maka ia harus berpuasa bersama manusia. Ia tidak boleh berpuasa sendirian berdasarkan hilal yang telah dilihatnya itu dan tidak boleh pula baginya membangun hukum-hukum puasa berdasarkan penglihatannya terhadap hilal seorang diri. Artinya, ibadah puasa Ramadhan adalah ibadah yang harus dilakukan secara bersama-sama dan tidak boleh sendiri-sendiri. Ini merupakan pendapat sebagian ulama salaf, satu riwayat pendapat dari imam Ahmad dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahumullah.( Mukhtashar Fiqhi ash-Shaum: 74)

 

Syaikh Abdullah bin Abdirrahman al-Bassam rahimahullah berkata: “Barangsiapa melihat hilal seorang diri saja, maka ia tidak wajib berpuasa dan melaksanakan seluruh hukum-hukum yang berkaitan dengan bulan Ramadhan. Sebab ia harus berpuasa dengan manusia dan berhari raya dengan manusia. Ini adalah pendapat yang benar dari seluruh perkataan yang ada”.( Taudhih al-Ahkam: 2/196)

 

Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Puasa dilakukan pada hari ketika kalian bersama-sama melaksanakan puasa, beridul fitri dilakukan pada hari kalian bersama-sama melakukan idul fitri dan idul adha dilakukan ketika kalian bersama-sama melakukan idul adha”. Imam Tirmidzy berkata: “Sebagian ahli ilmu menafsirkan hadits ini bahwa ibadah puasa dan berhari raya hanya boleh dilakukan ketika bersama dengan jama’ah dan kebanyakan manusia”. (Sunan at-Tirmidzy: 3/80 No 697)

 

Amalan ini menunjukkan betapa Ramadhan sangat mengedepankan persatuan umat dan mengedepankan keegoan diri sendiri.

 

2. Memberi makan orang yang berbuka puasa

 

Salah satu amalan yang dapat menguatkan rasa persaudaraan dan persatuan antar sesama muslim adalah saling memberi hadiah. Saling memberi hadiah dapat menghilangkan kebencian di dalam dada, melembutkannya dan menumbuhkan rasa cinta.

 

Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Saling memberi hadiahlah, sebab hadiah dapat menghilangkan rasa benci di dalam dada”. (HR. Tirmidzy No. 2130)

 

Diantara amalan yang termasuk dalam bentuk saling memberi hadiah saat bulan Ramadhan adalah memberi makanan untuk orang-orang yang berbuka puasa.Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa memberi makanan untuk berbuka puasa seorang bagi seorang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun”. (HR. Tirmidy No. 807)

 

3. Memperbanyak sedekah

Seorang manusia akan merasa sangat bahagia ketika mendapat sedekah dari saudaranya. Tidak hanya memunculkan rasa bahagia, ia juga akan menumbuhkan rasa cinta dan menghilangkan rasa benci, sehingga akan semakin meguatkan ukhuwah dan persatuan. Sedekah merupakan amalan yang dianjurkan di bulan Ramadhan.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma menuturkan:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan. Dan kedermawanan beeliau semakin bertambah ketika berada pada bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari No. 1902)

 

4. Menahan amarah dan memaafkan orang lain.

Tujuan dari melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan adalah agar seseorang dapat meraih ketakwaan. Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Terjemahan QS. Al-Baqarah: 183)

 

Salah satu sifat orang yang bertakwa adalah mampu menahan amarah dan mudah memaafkan orang lain. Seorang hamba yang berpuasa pada bulan Ramadhan harus mampu melatih dirinya agar dapat memliki sifat mulia ini dan berhias dengannya. Sebab jika tidak, maka ia kehilangan sifat takwa padahal takwa itu adalah tujuan utama dari melaksanakan ibadah puasa.

 

Jika seseorang telah mampu menahan amarahnya dan mudah memaafkan amarahnya, maka rasa persaudaraan dan persatuan akan semakin kuat dan tidak mudah dipecah belah.

 

Dari beberapa amalan ini bisa disimpulkan bahwa ibadah puasa yang dilakukan pada bulan Ramadhan bukanlah sekedar ibadah yang hanya menghubungkan antara hamba dengan Tuhannya, akan tetapi ia lebih dari itu. Ibadah puasa juga merupakan ibadah ukhuwah dan persatuan.

 

Islam dan persatuan

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan masalah persatuan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai amaliyah ibadahnya, salah satunya ibadah puasa. Diantara urgensi persatuan yang diisyaratkan di dalam al-Qur’an adalah memperoleh kemenangan dan bertambahnya kekuatan. Allah Azza wajalla berfirman:

“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Anfal: 46)

 

Ayat ini memberi isyarat bahwa perseteruan akan menyebabkan munculnya rasa takut dan hilangnya kekuatan, sedang persatuan akan menghasilkan kebalikan darinya, yaitu kemenangan dan munculnya kekuatan.

 

Persatuan sangat kita perlukan untuk kejayaan negeri yang kita cintai ini, Indonesia. Tanpa persatuan maka Indonesia tidak bisa maju dan sederajat dengan bangsa-bangsa lainnya. Sebaliknya, perpecahan hanya akan membawa kemunduran Indonesia.

 

Semoga Ramadhan kali ini semakin merekatkan ukhuwah di antara kita, semakin membuat kita peduli kepada sesama, yang dengannya kita saling mencintai dengan landasan takwa kepada Allah Ta’ala.[]

 

Sumber dari: https://wahdah.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp Chat Kami di Whatsapp